05/17/2008
Mama Lauren dan Ramalan 2008
Ramalan selalu memiliki dua sisi: skeptis dan sugestif. Bagi yang skeptis, ramalan sering dicap omong kosong, mendahului kehendak Sang Pemilik Hidup, syirik, dan sebagainya. Tentu saja, ini sikap ini tidak keliru. Namun, bagi yang sugestif dan cenderung percaya, ramalan menjadi daya yang menggairahkan, menarik untuk didiskusikan. Mengapa? Karena setiap orang ingin tahu apa yang sesungguhnya akan terjadi pada diri dan dunia yang dihidupinya. Dalam konteks ini, Mama Lauren termasuk yang paling sering dijadikan rujukan berbagai media untuk meneropong dan menerawang situasi selama satu tahun ke depan.
Saya tidak sedang bicara tentang apa yang diramalkan Mama Lauren di tahun 2008 yang akan segera tiba. Saya sedang mencoba memahami dan merasa-rasakan dalam diri saya sendiri, mengapa dua sisi percaya dan tidak percaya selalu menaungi pikiran saya setiap ramalan yang dimunculkan oleh seorang juru ramal, cenayang, paranormal, atau apapun namanya.
Secara nalar dan dengan menggunakan ilmu statistika sederhana, setiap orang memiliki peluang untuk menjadi peramal.
"Tahun depan akan banyak artis cerai, orang terkenal meninggal, bencana hebat, kecelakaan ini itu, dan sebagainya." Begitu kata para peramal. Tanpa menjadi peramal pun, orang dengan mudahnya seharusnya bisa menyimpulkan fenomena umum yang selalu dijumpai setiap tahun di negeri ini. Maka, terhadap ramalan semacam ini saya cenderung menggunakan nalar dan akal sehat.
Namun saya juga cenderung percaya, ada beberapa orang yang dianugerahi kemampuan untuk menelisik dan meneropong kejadian-kejadian di masa datang. Namun akal sehat saya mengatakan, kemampuan seperti ini tetap tidak dapat menentukan secara eksak kapan suatu peristiwa akan terjadi karena itu tetap merupakan sebuah rahasia Ilahi. Apalagi yang menyangkut umur manusia, nasib manusia, dan sebagainya.
Yang bisa didekati dengan ilmu pengetahuan, seperti gunung meletus, banjir, tentu saja jauh lebih meyakinkan dibandingkan dengan ramalan-ramalan. Gempa, sejauh ini belum bisa diprediksi. Kecelakaan, juga tak bisa diramalkan namun bisa dicegah.
Dari sini, saya sebenarnya hanya mau memberi ruang pada dimensi nonfisik atau non-ilmiah pada setiap fenomena yang saya lihat. Hanya supaya saya menjadi lebih waspada dan hati-hati, bahwa nalar dan akal saya memiliki keterbatasan, dan mungkin saya membutuhkan bantuan orang lain untuk menerjemahkan setiap hal yang akan terjadi pada diri dan dunia di sekeliling saya.
Maka, terhadap ramalan Mama Lauren misalnya, saya cenderung mengambil sikap kedua-duanya, skeptis sekaligus sugestif. Tidak menelan mentah-mentah, tetapi juga tidak menolaknya serta merta.
Bagaimana dengan Anda?
dari : wikimu.com penulis Aloysius Weha
06:50 Permalink | Comments (1) | Email this
Uang bukan segalanya
Ada orang bilang, sila pertama Pancasila sekarang udah berubah bukan lagi ‘Ketuhanan yang Maha Esa' tapi menjadi ‘keuangan yang maha kuasa'. Kalo dipikir-pikir, ada benernya juga sih!. Dalam banyak kesempatan sekarang ini uang tampaknya jauh lebih berkuasa daripada Tuhan sekalipun. Orang jauh lebih takut kehilangan dan tidak dapat uang daripada takut ama Tuhan. Bukan apa-apa, kalo ga ber-(iman kepada) Tuhan ga ada orang yang tau, tapi kalo ga punya uang... banyak orang yang tau, ‘n bisa-bisa ga ada yang mau nemenin deh ;)
Komersialisasi (perdagangan, urusan yang melibatkan uang) sekarang udah merambah ke berbagai bidang, bahkan bidang pendidikan yang penuh idealisme-pun sulit untuk menghindar dari cengkramannya. Dunia pendidikan yang bertujuan mulia pun sudah ternodai. Contohnya dalam nentuin sekolah, umumnya yang jadi pertimbangan utama sekarang adalah uang, kemampuan membiayai ataupun prospek ekonomi ke depannya. Dalam nentuin sekolah orang ngga lagi ngedepanin minat dan bakat, kalopun ada... sangatlah jarang yang demikian. Manfaat dan kegunaan ilmu bagi orang banyak tidak lagi jadi daya tarik. Jika suatu bidang ilmu tidak prospektif menghasilkan banyak uang, meskipun bisa memberi banyak manfaat, kurang diminati orang. Sekarang ini, pendidikan yang diperebutkan jutaan orang setiap tahunnya lebih didasari motivasi ‘komersial', semata-mata karena dan demi uang.
Jutaan orang berebut tempat untuk masuk ke lembaga pendidikan, ke sekolah, semata-mata untuk mengejar kesempatan yang lebih luas di dunia kerja, memperluas kesempatan yang sebesar-besarnya untuk meraih uang. Mereka akan marah-marah jika (anaknya) gagal masuk ‘sekolah bagus'. Berbagai upaya dilakukan karena khawatir akan tersisih, bahkan sebelum seleksi dilakukan. Orangtua rela banting tulang mencari uang untuk membiayai sekolah anaknya. Kita pun rela jungkir balik seleksi, belajar, dan ujian, bertahun-tahun melalui proses dan menyelesaikan berbagai persyaratan agar bisa lulus, meraih gelar. Semuanya dilakukan demi posisi ekonomi yang lebih baik di masa depan. Kedudukan ekonomi yang baik menjanjikan perbaikan pula di bidang lain : sosial, budaya, dan politik. Orang yang banyak uang akan dihargai, diperhatikan, didengar dan diikuti.
Sekarang ini ngga ada urusan yang ngga bisa diselesaikan pake uang. Bahkan untuk sekedar hadir ke pengajian tatkala musibah menimpa suatu keluargapun, untuk hadir ke tahlilan misalnya, ngga sedikit orang datang karena motivitasi uang. ‘Amplop' atau makanan berkat yang disiapkan keluarga yang sedang berduka (alangkah sedihnya nasib mereka yang terkungkung oleh tradisi ini, sudah ditimpa musibah keluarganya yang meninggal harus pula menyiapkan banyak biaya untuk penyelenggaraan hajat tahlilan) menjadi motivasi utama sebagian orang dalam menghadiri acara tersebut. Mendorong truk mogok di tengah kemacetan pun enggan dilakukan jika tidak dijanjikan uang karenanya. Dan... jangan bermimpi orang bermobil mewah di belakang truk mau turun dan ikut medorong, kecuali mungkin sibuk menekan-nekan klakson mobilnya yang terhalang sambil menggerutu.
Tak usahlah disesali orang-orang yang mencoblos pilihan dalam pemilu berdasarkan ‘amplop' yang diterimanya. Sebab kebanyakan orang yang ingin menjadi ‘wakil' rakyat-pun, jangan-jangan motivasinya demi uang, fasilitas dan material yang didapat karena kedudukan itu. Persetan dengan aspirasi rakyat yang diwakilinya kelak, yang penting kedudukan dan kesempatan sudah diraih. Berpolitik bukan lagi merupakan perjuangan idealisme, memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diyakini, tapi lebih menjadi suatu keahlian/ keterampilan yang bisa diandalkan sebagai pekerjaan profesional dengan imbalan yang sangat memadai. Ladang politik menjadi salah satu sumber nafkah utama yang sangat menggiurkan bagi kaum terpelajar. Politisi menjadi profesi yang sangat ekslusif, mereka tidak hanya sibuk membuat keputusan dan pernyataan politis tetapi juga pernyataan-pernyataan sosial budaya untuk meneguhkan jatidirinya sebagai seorang politisi profesional. Semakin hari mereka semakin elitis, tercerabut dari lingkungannya, semakin jauh dari rakyat yang diwakilinya.
Jangan pula berkhayal lagi seorang ulama, yang berilmu tinggi dan berakhlak mulia, akan didengar dan menjadi panutan jika mereka berpenampilan ‘seadanya'. Masyarakat akan lebih mendengar dan memperhatikan mubaligh yang penampilannya dihiasi dengan simbol-simbol keagamaan, yang tampak soleh dan santun, meski dungu dan menyesatkan sekalipun. Dengan jubah menjuntai, kata-kata nan memikat, gelar kiai haji, serta pesanggrahan nan megah, lengkaplah atributnya sebagai seorang tokoh agama dambaan umat. Kalo ga ikut pengajiannya yang bayar ato yang bayarannya kurang mahal rasanya kurang afdol, kurang berkualitas. Kalo ngga mengkonsumsi produk-produknya rasanya kurang beriman. Kesuksesan begitulah yang tampaknya dicita-citakan sebagian dai zaman sekarang. Demikian pula lah kebanyakan dari kita saat ini rupanya.
Sekarang bukan pula zamannya lagi aktivis pergerakan mahasiswa yang kucel, karena berhari-hari kurang tidur sibuk berdiskusi dan menyiapkan strategi perjuangan, menjadi rebutan mahasiswi. Sekarang sih generasinya ‘si boy', maaan!, cowo keren dengan penampilan dan kendaraan mentereng-lah yang dicari-cari, ga masalah IP-nya jeblok bahkan moralnya bejat sekalipun. Orang-orang miskin yang uangnya terbatas pun ngga mau kalah, kalo kebetulan lagi dapet uang lumayan dipakenya bukan untuk hal-hal yang penting dan perlu diprioritaskan, tapi untuk hal-hal konsumtif.
Akibat iklan-iklan yang begitu mempengaruhi pikiran, gaya hidup kita (ngga yang miskin ngga yang kaya) menjadi demikian konsumtif. Mengutamakan hal-hal yang bisa menaikan citra meskipun itu tidak terlalu diperlukan. Biarin kurang makan ‘n rumah hampir roboh juga, asal penampilan tetep keren. Bangga doong! kalo tiap bulan bisa gonta-ganti HP terbaru sich, peduli amat features (sarana-sarana)-nya berguna atau ngga, ga masalah tagihan kartu kredit (utang) membengkak juga... yang penting sih gaya maaan.
Lupakanlah untuk bercita-cita menjadi seperti Yudistira Virgus, Andika Putra atau Ardiyansyah (siapa yaa mereka?!), karena ga akan ada apa-apanya dibandingin ama Veri, Kia dan Mawar, tiga orang finalis AFI yang demikian populer beberapa waktu lalu. Jangan pula bandingin Sri Wahyaningsih dengan Inul Daratista yang begitu terkenal. Pemenang-pemenang medali emas, pengantar negara kita ke peringkat lima dunia di Olympiade Fisika Internasional terbukti ngga lebih dihargai banyak orang dibandingin ama pemenang lomba nyanyi hasil eksploitasi habis-habisan media televisi melalui SMS contohnya. Social worker, pengabdian diri bertahun-tahun dalam memperjuangkan pendidikan pastilah ngga akan lebih menarik daripada goyangan ‘ngebor' yang bisa menghasilkan milyaran rupiah. Barangkali pula Susi Susanti, Taufik Hidayat, Angelique Widjaja ngga akan berprestasi seperti sekarang ini kalo ngga ada uang pembinaan yang memadai dan hadiah yang melimpah.
Sebagaimana berbagai hal yang digambarkan di atas, banyak orang rela mati-matian mempertaruhkan hidup dan kehidupannya demi memperoleh uang. Bahkan ngga sedikit yang memilih mati daripada kekurangan uang. Demi uang apapun siap dilakukan. Sebenernya..... ngga ada salahnya sih nganggap uang (& hal-hal material) itu penting. Yang jadi persoalan itu, kalo nganggap itu jadi yang terpenting, segalanya. Segala hal hanya bisa berjalan dengan dan karena uang. Kenapa?!? Yaa... kenapa mesti menganggapnya menjadi yang terpenting?! Coba deh dipikir ulang, apa sih yang ingin dikejar dari uang? Terpenuhinya keinginan, untuk kesenangan, demi kebahagiaan? Atau....
Bener ngga sih uang tuh segalanya, alat utama untuk mencapai berbagai keinginan. Dalam batas tertentu mungkin yaa, tapi ternyata ngga juga tuh!. Inget ga di Piala Eropa 2004 lalu, hampir semua tim adidaya sepakbola, Inggris, Jerman, Spanyol, Italia dan Perancis tersungkur dan tersingkir sekaligus sebelum mencapai semifinal. Yang tersisa tinggal tim sepakbola Eropa pinggiran. Ternyata lima negara adidaya sepakbola yang sepanjang tahun mempertontonkan bisnis sepakbola, memperjualbelikan pemain dengan harga fantastik, tidak selamanya bisa berjaya. Mereka memang bisa menggaji para pelatihnya dengan jumlah uang yang mengalahkan setiap presiden republik manapun, termasuk gaji presiden Amerika Serikat, namun tidak ada satupun yang berhasil menembus semifinal di Piala Eropa 2004 lalu di Portugal.
Yang akhirnya bisa sukses bukanlah negara adidaya yang melambung-lambungkan sepakbola dengan gelimangan harta dan kemewahan, tapi negara-negara pinggiran yang menggelar olahraga sepakbola dalam arti yang lebih semestinya, asli dan sederhana. Yang menciptakan gol sebagai hasil gabungan paling dasar dalam atletik: meloncat tinggi, berlari cepat dan beradu kuat. Etos (semangat) olah raga yang semestinya (kesungguhan, disiplin, dan kerja keras) -pun ternyata bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan besar yang digerakkan oleh uang, yang bergelimang kemasyhuran dan kemewahan. Ingat pula di beberapa Olympiade, Pesta Olahraga Dunia, terakhir ini, Uni Sovyet dan negara-negara Balkan tetap bisa mengimbangi kedigjayaan Amerika Serikat dan Jerman Barat yang dunia olahraganya didukung oleh dana puluhan kali lipat dari yang disiapkan negara-negara pinggiran tersebut. Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa lainnya.
Memang, saat ini jutaan orang masih berlomba-lomba berproses dan berjuang melalui (lembaga) pendidikan bukan dengan tujuan utama ingin jadi lebih saleh, jujur, kreatif, kritis, atau bermanfaat bagi sesama. Tapi masih banyak pula yang tidak demikian. Masih ada orang-orang yang dengan ilmu yang diraihnya lebih mengutamakan manfaat (dan tercapainya keadaan yang lebih baik) bagi manusia dan kemanusiaan, bukan hanya sekedar demi uang. Masih banyak pula orang yang dengan kesederhanaan pemikirannya mau membantu orang yang sedang kesusahan dengan tulus, yang secara spontan siap menolong sesama tanpa mengharapkan balas. Lihatlah orang-orang lugu, masyarakat desa dan kaum yang ter-marginalkan (tersisihkan), solidaritas mereka kepada sesama masih demikian tinggi. Masih banyak pula ustad-ustad kampung, prajurit-prajurit rendahan, guru-guru berkekurangan, profesi-profesi pinggiran yang dengan kesederhanaannya dan jauh dari hingar-bingar popularitas rela mengabdikan seluruh hidupnya bagi kebaikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Masih ada elit-elit negara, politisi dan pejabat kita yang dengan amanat kekuasaan dan kesempatan yang diraihnya terus memperjuangkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diyakininya. Bukan hanya sibuk mengejar fasilitas dan menumpuk harta saja.
Ternyata kepuasan, kesenangan dan kebahagiaan tidak selalu harus diraih dengan uang. Masih banyak hal yang bisa dilakukan dan dicapai tanpa perlu bergantung pada uang. Ikut melihat ikan-ikan di akuarium tetangga tak jarang lebih membahagiakan daripada kesenangan yang dirasakan sang pemilik yang harus repot pula dengan urusan makanan dan keamanan ikan-ikannya itu. Makanan yang mahal-mahal belum tentu terasa lebih nikmat daripada nasi berkawan ikan asin dan sambal yang dimakan saat lapar begitu menggoda.
Apalah artinya banyak uang dan harta, jika penyakit dan kecemasan hinggap silih berganti (malah pembantu, supir, dan tukang kebun-nya yang bisa menikmati semua fasilitas si tuan dengan nyaman dan bahagia;)). Apalah bangganya berganti-ganti kendaraan jika dicaci sebagai anak koruptor. Apalah nikmatnya berbagai fasilitas yang tersedia jika hati selalu gundah, merasa kalah, tidak puas dan kekurangan terus. Senantiasa tidak bahagia. Lupakanlah dulu perkara akhirat, untuk urusan dunia semata sekalipun ternyata just money tidak selalu mengantarkan pada kesenangan hidup. Masih baa..anyak kenikmatan yang bisa diraih tanpa uang. Masih ada kebahagiaan rohani yang jauh lebih bernilai dan bisa dicapai dengan cara-cara dan jalan-jalan lain pula selain dengan uang, fasilitas material. Uang bukanlah segalanya.
dari : wikimu.com penulis Mufti
06:48 Posted in Blog | Permalink | Comments (0) | Email this
kisah tragis
Oei Hui lan adalah putri dari sang raja gula Asia tenggara era 1900-an yang berjaya menobatkan dirinya sebagai orang paling kaya di Asia tenggara Oei Tiong Ham asal Semarang. Hui lan adalah putri kedua dari pernikahan pertama raja gula tersebut dengan istri pertama di antara 50 gundik atau istri tak sah. Kisah perjalanan hidupnya begitu menyentuh bak bagaikan telonevela.
Ia berkisah tentang kehidupan semasa kecilnya dalam buku tak ada pesta yang tak berakhir, menikah dengan kaum jetset tak membuat dirinya merasa bahagia, bahkan di akhir hidupnya ia yang anti berpoligami harus menerima kenyataan sang suami menikah lagi dengan gundiknya. Hui Lan dalam bukunya bercerita tentang dia mendapatkan apapun yang ia inginkan karena kekayaan yang dimiliki Ayahnya.
Dan tidaklah lucu ketika suatu ketika ia berjalan dan orang asing baginya muncul mengaku kalau dia adalah adik tirinya. Tidak aneh bila sang ayah memiliki 50 gundik yang melahirkan minimal 7 orang anak. Sehingga hubungan antarkeluarga itu memunculkan konflik. Sang Ayah yang terdesak oleh pemerintah Hindia Belanda akhirnya memutuskan untuk melarikan diri ke Singapore dan menjalankan bisnisnya di sana.
Nasib sang Ayah begitu tragis. Hui Lan sempat tak percaya ketika ia melihat ayahnya begitu berubah . Ayahnya yang glamour, di masa tuanya menjadi orang yang sederhana karena pengaruh daripada istri terakhirnya bernama Lucy Ho. Konon Hui Lan sempat meragukan kematian sang Ayah yang secara mendadak karena serangan jantung. Ia curiga Ayahnya diracunin oleh Lucy Ho untuk merebut harta warisannya. Memang harta tersebut akhirnya jatuh pada Lucy Ho. Nasib Lucy Ho sendiri cukup tragis mati karena sebuah kanker otak. Hui Lan pun sadar kehidupan mewah dari sang Ayah mulai berakhir. Namun harta sudah tak menjadi arti lagi baginya.
Wellington Koo sang suami adalah tokoh revolusi RepubliK Rakyat Cina yang menjabat sebagai duta besar di Amerika Serikat. Pernikahan mereka tidaklah bahagia dengan melahirkan 3 orang putra. Menurut Hui Lan, sang suami lebih mencintai negaranya daripada dia dan anak anaknya. Di masa tua Hui Lan hidup seorang diri bersama anjing-anjingnya dan anak tirinya dari sang suami yang begitu setia.
Bukunya mengajarkan kita sebuah arti kehidupan.
Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus puas dengan yang kita miliki. Banyak teman baik saya pun sudah meninggal, tetapi saya banyak mendapat teman baru yang masih muda. Saya sering mengenang anjing-anjing saya yang sudah mati, yang memberi saya cinta kasih dan kebahagiaan pada tahun tahun terakhir. Saya harap suatu waktu kelak mereka akan dilahirkan lagi. Kalau demikan halnya, saya yakin kami akan saling mengenali, ujar Hui Lan dalam bukunya.
Hui lan sendiri telah meninggal pada tahun 1992. Hingga kini nama sang Ayah menjadi jalan di sebuah tempat di Singapura. Peninggalan rumah serta warisannya di Semarang masih ada namun tak terawat. Kekayaan sang Ayah ketika ia meninggal menjadi dilema di antara konflik keluarga yang berakhir dengan diambil alih oleh Presiden berkuasa saat itu Soerkarno, yang memang anti Barat terlebih kebanyakan usaha milik Ayahnya bekerjasama dengan pihak asing.
Saya mengutip sebuah catatan dari majalah Intisari dalam Pelangi Cina di Indonesia yang dapat anda lihat melalui situs blog saya : www.lieagneshendra.blogs.friendster.com
Sebuah sejarah telah mengajarkan kita betapa hidup bukanlah harta yang kita miliki, namun kasih sayang dan kebahagiaan adalah harta yang paling sempurna bagi hidup kita.
(Sumber: Intisari dalam Pelangi Cina Indonesia)
dari : wikimu.com
06:40 Posted in Blog | Permalink | Comments (0) | Email this

